Wanita Madrasah Terbaik untuk Anak-anaknya Agar Tercipta Generasi yang Jenius dan Berakhlak

53 Pembaca

Wanita Madrasah Terbaik untuk Anak-anaknya Agar Tercipta Generasi yang Jenius dan Berakhlak

Dibuat oleh : Reza Liana/PGMI 07 UIN Raden Fatah Palembang

 

Pendahuluan

            Madrasah adalah  kata dalam bahasa Arab yang berasal dari fi’il madi “darasa” yang berarti “tempat belajar” atau “tempat memberikan pembelajran”. Dalam bahasa Indonesia madrasah berarti sekolah. Kenyataannya, berasal dari bahasa Arab dan diserap dalam bahasa Indonesia dalam bentuk aslinya yaitu madrasah. Hal ini menyebabkan masyarakat lebih memahami madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan agama dan keagamaan.[1]

            Di era yang seperti ini orangtua terutama wanita(ibu) berperan sebagai suatu sistem sosial yang dapat membentuk karakter serta moral seorang anak. Keluarga tidak hanya sebuah wadah tempat berkumpulnya ayah, ibu, dan anak sesungguhnya lebih dari itu. Keluarga merupakan tempat ternyaman bagi anak. Berawal dari keluarga segala sesuatu berkembang. Kemampuan untuk bersosialisasi, mengaktualisasikan diri, berpendapat, hingga perilaku yang menyimpang.   

          Keluarga merupakan paying kehidupan bagi seorang anak. Keluarga merupakan tempat ternpat ternyaman bagi seorang anak. Beberapa fungsi keluarga selain sebagai tempat berlindung, (Mudjijono, et al., 1995) diantaranya:

  1. Mempersiapkan anak-anak bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma aturan-aturan dalam masyarakat dimana keluarga tersebut berada (sosialisasi)
  2. Mengusahakan terselenggaranya kebutuhan ekonomi rumah tangga (ekonomi), sehingga keluarga sering disebut unit produksi.
  3. Melindung anggota keluarga yang tidak produksi lagi (jompo).
  4. Meneruskan keturunan (reproduksi).[2]

            Orangtua merupakan teladan bagi anak-anaknya. Anak-anak yang sering melihat orangtuanya berzikir, bertahlil, bertahajud, bertasbih dan bertakbir, akan meniru ucapan seperti: la ilahaillallah, subhannallah, Alhamdulillah, dan allahu akbar dari orangtuanya. Anak-anak juga cenderung meniru perilaku orangtuanya dalam banyak hal: berbaik-baik dengan nenek-kakeknya, menenangkan hati, memenuhi kebutuhan mereka, kebiasaan ibu berjilbab, dan berdo’a: ”Wahai Tuhanku! Ampunilah aku dan keduaorangtuaku dan rahmatilah keduanya seperti ketika mereka mendidikku di waktu kecil”. Ajaran Islam mendorong umatnya, orangtua, agar terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Swt., menjadi teladan bagi putra-putrinya dalam hal agama, kecintaan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, akhlak, perangai, dan tutur kata.[3]

Pembahasan

            Dalam menghadapi situasi seperti ini, alternatif terbaik untuk semua kaum wanita adalah terus bersemangat belajar  karena kalau kita tidak ada pendidikan maka kaum laki-laki lobak akan hak, karena dengan adanya pendidikan kaum wanita tidak semestinya jabatan hanya menjadi istri tetapi untuk mencari pekerjaan di luar rumah tangga dengan pendidikan juga wanita bisa mendidik anaknya dan mengurus rumah tangga dengan baik. Pada zaman yang sudah modern seperti sekarang tidak ada yang tidak menempuh dunia pendidikan. Karena kita kaum wanita harus menghargai pengorbanan ibu kita Kartini beliaulah yang membela kaum wanita agar tidak semata-mata di kekang oleh kaum laki-laki tetapi bukan bermaksud untuk menyaingi laki-laki.  

            Yang menjadi faktor perkembangan karakter anak itu adalah dari pendidikan orangtuanya dengan lingkungan keluarga yang terdidik dan berakhlak akan menciptakan generasi yang jenius dan berakhlakul karimah.

     Lingkungan merupakan tempat dimana seorang anak tumbuh dan berkembang, sehingga lingkungan banyak berperan dalam membentuk kepribadian dan karakter seseorang. Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan ini yang mempengaruhi perkembangan anak, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. Keluarga dipandang sebagai lingkungan dini yang dibangun oleh orangtua dan orang-orang terdekat. Setiap keluarga selalu berbeda dengan keluarga lainnya, dalam hal ini yang berbeda misalnya cara didik keluarga, keadaan ekonomi keluarga. Setiap keluarga memiliki sejarah perjuangan, nilai-nilai, dan kebiasaan yang turun menurun yang secara tidak sadar akan membentuk karakter anak.

     Pengaruh keluarga amat besar dalam pembentukan pondasi kepribadian anak. Keluarga yang gagal membentuk kepribadian anak biasanya adalah keluarga yang penuh dengan konflik atau tidak bahagia. Tugas berat para orangtua adalah meyakinkan fungsi keluarga mereka benar-benar aman, nyaman, bagi anak-anak mereka. Rumah adalah surga bagi anak, dimana mereka dapat menjadi cerdas, sholeh, dan tentu saja tercukupi lahir dan batin.

Sebagai generasi penerus dari kaum kartini kita harus bangga karena kalau kita hidup sebelum dimana kartini belum lahir kita tidak bisa melihat dunia pendidikan, jadi mamfaatkanlah waktu kita untuk bersungguh-sungguh dalam belajar karena di zaman seperti sekarang ini banyak jalan untuk menempuh pendidikan tergantung dengan diri masing-masing mulai dari beasiswa berprestasi, beasiswa miskin dan lain sebagainya. Agar kelak menjadi Madrasah terbaik bagi keluarga.

Penutup

            Pendidikan di Indonesia sudah berkembang dengan baik dilihat dari mutu-mutu Universitas yang ada di Indonesia. Dengan berkembangnya pendidikan di Indonesia maka semakin ketat juga persaingan, sebagai generasi penerus Kartini kita harus lebih semangat untuk belajar karena di zaman yang seperti ini sangat dibutuhkan itu adalah skill.

Referensi

Abdullah dan Safarina 2015,  Etika Pendidikan, Jakarta: RajaGrafindo Persada.

 

Departemen Agama RI. 2005, Rekontruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Departemen Agama RI.

http://wimelimonica.Wordpress.com/peran-keluarga-terhadap-perkembangan-karakter-anak/ diakses pada tanggal 14 appril 2018 pukul 21. 30 WIB

[1] Departemen Agama RI, Rekontruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2005), hlm. 99-100

[2] http://wimelimonica.Wordpress.com/peran-keluarga-terhadap-perkembangan-karakter-anak/ diakses pada tanggal 14 appril 2018 pukul 21. 30 WIB

[3] Abdullah dan Safarina, Etika Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2015), hlm. 138.              

 

Leave a Comment