Tanyakan Kemerdekaanmu

83 Pembaca

Merdeka !!! merdeka !!. Suara presenter acara televisi yang sedang tayang malam ini menyeru di ruang tengah rumahku. Malam ini aku merdeka dari pekerjaan yang biasanya cukup menyita waktu istirahatku. Sebagai pegawai biasa di pabrik milik perusahaan asing di kotaku, biasanya aku menjual waktu yang kupunya untuk ditukar dengan uang suntuk mencukupi kebutuhan . Begitulah kehidupanku sebagai buruh pabrik, menghabiskan masa muda dalam sebuah ruang bising mesin dan berisikan puluhan orang yang berjubal berebut oksigen. Udara panas khas pabrik sudah jadi makanan sehari-hari untukku, ocehan petinggi pabrik terhadap kinerja pun jadi santapan sehari-hari.

Merdeka !!! merdeka!!! . Suara presenter acara telivisi yang ku tonton sekarang makin menggelegar, malam ini ku nikmati 24 jam waktu yang Tuhan berikan dengan cuma-cuma, menghirup ribuan partikel oksigen segar yang Tuhan sediakan untuk dihirup sepuasnya. Sebentar aku memejamkan mata, kemudian aku terbangun, terlintas sesuatu di pikiran. 17 Agustus 2019, hari ini negeriku tercinta berusia 74 tahun, hampir sepadan dengan usia kakekku yang menginjak usia 76 tahun. Orang bilang, negeri kita sudah merdeka. 74 tahun lamanya, tapi apa kita sendiri sudah merdeka?. Ku bayangkan, 74 tahun lalu, di jalan Pegangsaan Timur no.56 Bung Karno membacakan teks proklamasi dengan bijaksana dan gagahnya, memberi tanda kepada semua rakyat Indonseia bahwa kini mereka telah merdeka. Merdeka ?? Ya, merdeka !! apa kita semua sudah merdeka!? Terutama aku. Kutanyakan kemerdekaan pada diriku sendiri, yang setiap hari menggadaikan waktu dengan beberapa lembar uang, yang rela menyiksa paru-paruku untuk bernafas di ruang yang panas dan dipenuhi manusia, yang dengan sadar membakar kulit dalam ruangan panas dan pengap, dan memenuhi telinga dengan suara bising mesin. Lalu ssebenarnya apa kita sudah merdeka ? berdiri dan tinggal di tanah negeri yang merdeka bukan bearti diri kita sudah merdeka. Aku membayangkan kemerdekaan bagiku adalah dimana saat aku bukan lagi menjadi buruh di pabrik orang asing, kemerdekaanku adalah dimana aku bisa menjadi pemilik pabrik yang banyak memberi lapangan pekerjaan kepada pemuda di negeri ini. Begitu bukan ? ya.. jika begitu kemerdekaanku, maka aku adalah hamba terjajah di negeri yang merdeka. Pikiranku malam itu melayang kemana-mana, memikirkan nasibku yang ternyata belum merdeka. Malu rasanya terkadang aku menyerukan “Merdeka !! merdeka !!” tapi nyatanya aku masih terjajah di negeriku sendiri.

Esoknya, aku melihat seseorang lontang-lantung di pinggir jalan, mengais sampah mencari makanan kelihatnnya, pakaian yang lusuh dan sandal jepit tipis menjadi pelengkap kesengsaraan hidupnya. Oh… Tuhan , ternyata ada orang yang tak seberuntung aku. Aku tahu, kemerdekaan adalah suatu hal yang luas, tak bisa dipandang oleh satu mata saja. Kemerdekaan adalah hak setiap orang. Kemerdekaan adalah keinginan setiap orang, kemerdekaan adalah impian setiap orang. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, merdeka dari kesengsaraan. Biarlah diri mereka yang menentukan kemerdekaannya. Anugrah kemerdekaan bagi negeri ini adalah peluang yang Tuhan berikan untuk kita memperjuangkan kemerdekaan bagi diri kita sendiri.

Selamat ulang tahun, Indonesiaku yang ke 74, jadikan semangat kemerdekaan untuk mengantarkan kita pada kesuksesan di masa mendatang.

Leave a Comment