Metode Pembelajaran di Pondok Pesantren Darussalam Sengkubang, Mempawah

281 Pembaca

Pesantren Darussalam Sengkubang resmi berdiri pada, 25 Juli 1992 bertepatan 24 Muharram 1413 H. Pendiri Pontren ini adalah H.Abdullah Alie, HM.Yunus Nazam, dan KH.Tusirana Rasyid. Tiga orang tersebut yang mengambil prakarsa hingga berdirinya Pontren Darussalam Sengkubang atas izin Allah. H. Abdullah Ali’e sebagai Ketua Yayasan, H.M. Yunus Nazam sebagai Sekretaris Yayasan, dan KH. Tusirana Rasyid sebagai Pimpinan Pontren. Kemudian juga tak terlepas dari anak H.M. Yunus Nazam, yaitu H. Yusdiansyah, S.Pd. MM, alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai pendorong untuk mendirikan pondok pesantren dan dibantu oleh Syafawi Sunadi, Akhyar Akhmad yang juga alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Jawa Timur.

Berdirinya Pontren Darussalam Sengkubang hingga seperti kondisinya pada saat ini mempunyai sejarah yang panjang. Pada tahun 1964 (zaman orde lama), beberapa tokoh masyarakat Sengkubang, antara lain H.M. Yusuf Amin (almarhum), M. Harun (almarhum), A. Rahman Yusuf, H.M. Yunus Nazam (saat itu belum haji), A. Hamid Nazam telah mendirikan Madrasah Diniyah, kemudian pada tahun 1970, didirikan Madrasah Tsanawiyah oleh M. Zuhdi H. Yusuf, yang pada saat itu dikenal dengan nama SMIP kependekatan dari Sekolah Menengah Islam Pertama. Akan tetapi 4 (empat) tahun kemudian menurut penuturan H.M. Yunus Nazam, Tsanawiyah tersebut mengalami kevakuman alias tidak ada kegiatan belajar mengajar, hingga akhirnya pada tahun 1982, dua orang tokoh yaitu H.M. Yunus Nazam dan H. Abdullah Ali’e, menemui Ust. TusiranaRasyid yang saat itu bertugas sebagai Da’i Pembangunan/Rabithah Alam Islami, untuk membangun kembali Madrasah dengan kegiatan belajar mengajar tingkat Tsanawiyah digedung yang sudah ada dan berdirilah Madrasah Tsanawiyah babak baru tahun 1983 dengan jumlah murid perdana 39 orang, setahun kemudian 1984, dibuat akta pendirian Yayasan Darussalam sebagai langkah awal menuju perkembangan pendidikan selanjutnya dan pada tahun 1988 didirikan Madrasah Aliyah dengan jumlah murid perdana 10 orang.

Barulah pada tahun 1992 setelah Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah berjalan cukup baik dimulailah menampung para santri yang mondok dengan program pendidikan formal MTs, Aliyah dan program Pontren sebanyak 17 orang santri perdana (tidak termasuk murid MTs dan MA), yang seluruh biaya nyantrnya ditanggung oleh Yayasan.ondok darussalam sengkubang mempunyai dua tempat lokasi berbeda yang dinamakan kampus satu dan kampus dua. kampus satu untuk santri putri beserta ustadzah dan kampus 2 untuk santri putra beserta ustad yang di amanahkan untuk membimbing santriwati dan santriwan.

Pondok pesantren darussalam merupakan salah satu pondok pesantren terpandang di kalimantan Barat. Banyak santri yang menuntut ilmu baik itu ilmu agama maupun pengetahuan umum. Santri yang sekolah disana berasal dari berbagai daerah dikalimantan barat, mulai dari sintang, sekadau, sanggau, ketapang, putusibau, melawi, sambas, pontianak, mempawah, dan ada juga dari luar kalimantan barat yaitu dari Kepulauan Riau .

Pondok pesantren darussalam terdapat beberapa macam kegiatan ekstrakurikuler santri yaitu marcing band, qasidah , karate, silat tapak suci, kaligrafi, paduan suara, tenis meja, badminton, volly dan sebagainya. Pondok pesantren darussalam banyak menghasilkan santri yang berprestasi karena mendapatkan juara dari lomba-lomba tersebut. Salah satunya ialah kaligrafi, santri yang mempunyai bakat kaligrafi sering lomba diacara mtq dan sering mendapatkan juara umum.
Pondok pesantren darussalam menggunakan dua sesi dalam ujian, yang pertama ialah ujian lisan, ujian lisan merupakan ujian yang soalnya ditanya dan dijawab langsung dari ustad/ustadzah kepada santri.sebelum kita lulus ujian lisan kita tidak boleh mengikuti ujian tulisan, maka dari itu santri sangat bersungguh-sungguh dalam mengikuti ujian lisan tersebut agar bisa mengikuti ujian tulisan.
Metode pembelajaran dipondok pesantren darussalam sengkubang yaitu teks tertentu dibawah bimbingan dan pengawasan ustad/ustadzah. para santri diberi tugas untuk mengapal bacaan-bacaan dalam jangka waktu tertentu. Hapalan yang dimiliki santri ini kemudian dihapalkan dihadapan ustad/ustadzah secara periodik atau insidental tergantung kepada petunjuk ustad/ustadzah tersebut. Materi pelajaran dengan metode hapalan umumnya berkenaan dengan Al-qur’an, Hadits, Nazham-nazham nahwu, shorof, tajwid dan pelajaran umum lainnya.

Metode musyawarah atau dalam istilah lain bahtsul masa’il merupakan metode pembelajaran yang lebih mirip dengan metode diskusi atau seminar. Beberapa orang santri dengan jumlah tertentu membentuk halaqah yang dipimpin langsung oleh ustad/ustadzah, atau mungkin juga senior, untuk membahas atau mengkaji suatu persoalan yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam pelaksanaannya, para santri dengan bebas mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau pendapatnya.Kegiatan penilaian oleh ustad/ustadzah dilakukan selama kegiatan musyawarah berlangsung. Hal-hal yang menjadi perhatiannya adalah kualitas jawaban yang diberikan oleh peserta yang meliputi kelogisan jawaban, ketepatan dan kevalidan referensi yang disebutkan, serta bahasa yang disampaikan dapat mudah difahami oleh santri yang lain.

Metode Demonstrasi/ Praktek ibadah Metode ini adalah cara pembelajaran yang dilakukan dengan meperagakan (mendemonstrasikan) suatu keterampilan dalam hal pelaksanaan ibadah tertentu yang dilakukan perorangan maupun kelompok di bawah petunjuk dan bimbingan ustad/ustadzah.

Metode Muhawarah adalah suatu kegiatan berlatih dengan bahasa Arab yang diwajibkan oleh pesantren kepada para santri selama mereka tinggal di pondok. Beberapa pesantren, latihan muhawarah atau muhadasah tidak diwajibkan setiap hari, akan tetapi hanya satu kali atau dua kali dalam seminggu yang digabungkan dengan latihan muhadhoroh atau khitobah, yang tujuannya melatih keterampilan anak didik berpidato.

Metode Wetonan/ Bandongan, Wetonan istilah ini berasal dari kata wektu (bahasa jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum dan atau sesudah melakukan shalat fardhu.Metode bandongan atau weton adalah sistem pengajaran secara kolektif yang dilakukan di pesantren.

Metode Mudzakarah-Mudzakarah merupakan suatu pertemuan ilmiah yang secara spesifik membahas masalah diniyah seperti ibadah dan aqidah serta masalah agama pada umumnya. Dalam mudzakarah tersebut dapat dibedakan atas dua tingkat kegiatan: Mudzakarah diselenggarakan oleh sesama santri untuk membahas suatu masalah dengan tujuan melatih para santri agar terlatih dalam memecahkan persoalan dengan mempergunakan kitab-kitab yang tersedia. Salah seorang santri ditunjuk sebagai juru bicara untuk menyampaikan kesimpulan dari masalah yang didiskusikan Mudzakarah yang dipimpin oleh ustad/ustadzah, dimana hasil mudzakarah para santri diajukan untuk dibahas dan dinilai seperti dalam suatu seminar. Biasanya lebih banyak berisi Tanya jawab dan hampir seluruhnya diselenggarakan dalam bahasa Arab.

Metode Pembelajaran Terbimbing, Dalam teknik ini, guru menanyakan satu atau lebih pertanyaan untuk membuka pengetahuan mata pelajaran atau mendapatkan hipotesis atau kesimpulan mereka dan kemudian memilahnya kedalam kategori- kategori. Metode pembelajaran terbimbing merupakan perubahan dari ceramah secara langsung dan memungkinkan santri mempelajari apa yang telah diketahui dan dipahami sebelum membuat poin-poin pengajaran.

Metode Mengajar Teman Sebaya
Beberapa ahli percaya bahwa satu mata pelajaran benar-benar dikuasai hanya apabila seorang peserta didik mampu mengajarkan pada peserta lain. Mengajar teman sebaya memberikan kesempatan pada peserta didik mAdapun langkah-langkah metode mengajar teman sebaya ini, adalah:
– Memulai dengan memberikan kisi-kisi atau bahan pelajaran kepada santri
– Menyuruh santri untuk mempelajarinya atau mendiskusikannya sejenak
– Menunjuk perwakilan dari santri untuk maju ke depan
– Menyuruh perwakilan santri tersebut untuk mengajarkan (menerangkan) materi yang telah didiskusikan atau dipelajari.
Metode pembelajaran yang lebih baik ialah mempergunakan kegiatan murid-murid sendiri secara efektif dalam kelas, merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan sedemikian rupa secara kontinu dan juga melalui kerja kelompok.
(Annisa Febriani Mahasiswa PGMI 1 D IAIN Pontianak) 

Leave a Comment