matinya sumber pengetahuan

42 Pembaca

 

 

MATINYA SUMBER PENGETAHUAN

 

Oleh:ASNIARTI

MAHASISWA IAIN PONTIANAK

Rumahku hanya dijadikan sebuah monumen sejarah peradaban manusia. Aku hanya terdiam di pojok rak dengan badan di penuhi sarang laba-laba. Sudah lama tubuh ini tidak di jamah oleh tangan-tangan manusia. Ratapan dan tangisan menjadi candu dalam kehidupanku sehari-hari. Yaa, aku ingin disetubuhi, aku ingin di jamah lagi hingga kulitku mengkisut.

Memang kodratku demikan, sejak zaman yunani kuno aku memang di ciptakan untuk di rabah dan dilihat isi dalamanku. Itu semua agar manusia memiliki pengetahun luas dan bisa berfikir dan bertindak selayaknya manusia. Memang tampak aneh kelihatanya. Rasa sedih ini muncul ketika raga ini tak disentuh dan tak di jamah lagi.

Apakah nasipku akan terus seperti ini?. Di ciptakan hanya untuk di jadikan koleksi sebagaimana barang antik?. Kata ini yang selalu membayang-bayangi fikiranku.

Peradaban manusia memang hampir mencapai puncaknya. Kecanggihan teknologi membuat tuna manusia. Fasilitas internet yang semangkin baik, di tambah merebaknya internet ke pelosok-pelosok desa menjadi alat pembungkam nalar dan akal manusia.

Banyak manusia-manusia naif merasa kagum kepada prestasi yang di torehkan sesama kloningnya di puncak kelas tertinggi. Hebat sekali dia yaa!!!, aku kagum kepanya!!!, aku ingin seperti dia!!!. Kata-kata yang bernuansa decak kagum memenuhi otak-otak subsidinya. Bulsit!!! Menjadi sebuah kenyataan, kalau hanya di lihat ketika dia berada diatas.

Prilaku akal seperti ini seharusnya segera di rubah, lihat dari sudut pandang yang berbeda. Bagaimana dia bisa seperti itu? Cari Dia sukses karena apa? Bagaimana caranya? Cara-cara apa yang sudah pernah di lakukannya?.

Kalau sudah akal  dibiasakan berfikir seperti ini. Tentu fenomena yang ada di kalangan para orang-orang sukses akan menjadi sesuatu yang biasa. Tidak ada keistimewaan disana. Karena dibalik layar kata “sukses”, di sana ada kata “usaha”, tinggal kitanya saja memberi bobot usaha itu. Semangkin berat bobotnya semangkin besar potensinya. Dan itulah hukum alam. Semua manusia terlahir sama illa Nabi dan wali-wali Allah. Sama-sama terlahir keadaan fakir, baik materi maupun non materi.

Maka kata kunci dari “sukses” adalah “usaha”. Usaha untuk belajar, usaha untuk memperbaiki diri, usaha DLL. Sekelas Nabi Muhammad SAW. pertama kali mendapatkan wahyu dari Allah SWT. berupa surah Al-Alaq yang ayat pertamanya lafadz “Iqro” (Bacalah). Sangat naif sekali kalau ada orang ingin pintar, ingin pandai tapi tidak membonceng sebuah usaha. Analogi sederhananya seperti ini. Kalau ada orang ingin kenyang seharusnya berbuat apa?? Satu, makan. Dua, renang di pantai. Tiga, lari maraton. Pilih yang mana??.

 

Jangan jadikan perkembangan zaman menjadi sebuah alasan untuk bergerak maju. Seharusnya dengan canggihnya teknologi itu semangkin membantu penggunanya. Jadikan masa lalu menjadi sebuah pelajaran, jadikan masa sekarang sebagai sebuah bagian dari usaha, dan jadikan masa depan sebagai target yang ingin di capai. Jangan biarkan buku-buku di rak perpustakaan di jadikan tempat pembuangan kotoran binatang-binatang yang tak memiliki akal.

               

Leave a Comment