IMPLEMENTASI KETELADANAN R.A KARTINI SEBAGAI BEKAL MAHASISWA PGMI DALAM MENDIDIK SISWA

28 Pembaca

IMPLEMENTASI KETELADANAN R.A KARTINI SEBAGAI BEKAL MAHASISWA PGMI DALAM MENDIDIK SISWA

Ditulis oleh; Dida Rasidah Afifah

            Setiap tahunnya pada tanggal 21 April sering diperingati dengan Hari Kartini, masyarakat Indonesia biasa memeriahkan hari itu dengan menggunakan baju kebaya dan menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini sebagai tanda termakasihnya dalam memperjuangkan emansipasi wanita. Perjuangannya berangkat dari keresahannya terhadap sikap diskriminasi pada kaum perempuan. Di era R.A Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, para perempuan di  negeri ini belum mendapatkan kebebasan dalam menempuh pendidikan yang tinggi karena berbenturan dengan budaya Jawa kala itu. Sejak saat itu ia bertekad untuk memperjuangkan hak dan memajukan kaumnya, lewat pendidikan R.A Kartini memulai perjuangannya. Walaupun banyak rintangan yang menghadang, ia tidak goyah dan tetap gigih dengan cita-citanya. Dengan keberanian yang berkobar dan pengorbanan yang tulus, ia mampu melepaskan kaumnya dari jeratan diskriminasi. Para perempuan akhirnya bisa menikmati pendidikan, dan pemikirannya pun menjadi maju karena telah diilhami oleh ide dan gagasan R.A Kartini.

            Dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 163). R.A Kartini memang telah tiada, namun ilmu dan perjuangannya tidak terputus sesaat setelah kepergiannya. Begitu besar dampak yang ia berikan terhadap kebangkitan Indonesia. Perwujudan rasa terimakasih kita kepadanya tidak hanya dapat dilakukan satu tahun sekali dengan berkebaya dan menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini saja, lebih dari itu meneladani sifat dan pemikirannya akan lebih berarti. Bangsa kita memang sudah merdeka, masyarakat sudah mulai melek emansipasi dan kesetaraan, tetapi tantangan zaman semakin beragam dan akan terus menerjang. Oleh karena itu, mental seorang pejuang harus kita tanamkan kepada tunas bangsa kita.

            Mahasiswa PGMI memegang peranan penting dalam memajukan pendidikan Indonesia. Kendati masih berstatus sebagai mahasiswa kita diharapkan mampu untuk meregenerasi tenaga pendidik dalam keadaan siap dan profesional. Kemajuan zaman, kurikulum yang terus berkembang dan karakter siswa yang semakin beragam menuntut kita untuk bersikap inovatif dalam mendidik siswa. Kita tidak boleh merasa berpuas diri dengan ilmu yang didapat selama belajar di bangku perguruan tinggi. Sensitivitas dalam berpikir inovatif membantu kita untuk melakukan pembaharuan dalam mendidik siswa, karena dunia pendidikan yang bersifat dinamis selalu berubah-ubah seiring perkembangan zaman. Sifat-sifat yang ada pada R.A Kartini harus diteladani oleh siswa. Sehingga siswa tidak hanya sebatas menghafal sejarahnya saja. Mahasiswa PGMI sebagai calon pendidik MI/SD diharapkan mampu menstimulus peserta didik untuk mengimplementasikan keteladanan dari R.A Kartini. Meneladani sifat dan pemikiran R.A Kartini untuk mendidik siswa merupakan suatu inovasi dalam mengapresiasi jasa-jasanya terhadap bangsa Indonesia.

            R.A Kartini adalah seorang pemberani yang berjiwa optimis. Meski pemikirannya berbenturan dengan budaya Jawa saat itu, api keberaniannya tidak pernah padam. Ia optimis bahwa tindakannya akan memberikan dampak di kemudian hari. Membekali siswa agar dapat bersikap berani dan optimis sejak dini merupakan sebuah harapan di suatu saat nanti mereka berani memperjuangkan kebenaran dan bersikap optimis pada setiap tindakannya. Guru juga mempunyai peranan sebagai seorang motivator. Disaat muridnya merasa malu, cemas, tidak percaya diri atau takut saat melakukan sesuatu di sanalah seorang guru harus mampu memberikan dorongan kepada siswanya.

            Meskipun terlahir dari keluarga bangsawan, ayahnya bernama R.M. Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bangsawan yang menjabat sebagai bupati Jepara. Ibunya yang bernama M.A. Ngasirah, beliau merupakan anak seorang kiai di Telukawur, Kota Jepara. R.A Kartini tidak memiliki sifat sombong dengan statusnya sebagai bangsawan, ia tidak membanggakan atau congkak karena statusnya tersebut, namun tetap rendah hati dan memperlakukan setiap orang tanpa pandang bulu. Para siswa datang dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda, juga mempunyai kemampuan dan potensi masing-masing. Sebagai calon pendidik kita harus mampu menciptakan suasana yang toleran dan bersahaja terhadap sesama. Apabila ada siswa yang meraih prestasi biasakan siswa lainnya memberikan apreasiasi, jika ada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran tanamkan untuk saling mendukung dan memotivasi.

            Sekolah merupakan rumah kedua bagi siswa, dan guru adalah orang tuanya di sekolah. Namun bukan berarti perkembangan siswa di rumah dilupakan. Hubungan yang baik dengan orangtua akan mendukung perkembangan siswa dalam proses pembelajaran. R.A Kartini menghargai dan menuruti keputusan orang tuanya untuk berhenti sekolah karena budaya Jawa yang mengharuskannya dipingit di rumah. Dia tetap menghormati kedua orang tuanya walaupun cita-citanya ingin melanjutkan sekolah sampai ke jenjang paling tinggi terhalangi oleh keputusan orangtuanya. Tentu saja kasus hubungan antara murid dengan orangtua akan bermacam-macam jenisnya, dan kita harus mampu menanamkan rasa hormat kepada kedua orangtuanya. Maka sangat perlu melakukan pendekatan emosioanal yang baik dengan murid supaya terjadi keselarasan antara di rumah dan di sekolah.

            Gemar membaca buku merupakan salah satu hobi dari R.A Kartini, walaupun ia tidak dapat keluar rumah untuk bersekolah hobi membaca buku tidak pernah ia tinggalkan. Membaca buku baginya merupakan suatu kebabasan, R.A Kartini merasa pergi ke banyak tempat dan bertemu dengan orang-orang hebat lewat buku yang ia baca, meski raganya tetap dipingit di dalam rumah. Sadar manfaat literasi harus ditumbuhkan sejak dini. Mengingat begitu melimpahnya informasi simpang siur di internet yang  mudah diakses oleh anak di bawah umur, menanamkan sadar literasi sejak dini dengan gemar membaca buku akan melatih siswa untuk terus mencari kebenaran. Buku merupakan cakrawala dunia, sebaik-baiknya teman di kala duduk. Segudang manfaat dapat kita rasakan apabila siswa sejak dini sudah gemar membaca. Pemikirannya akan terbuka, kritas dan imajinatif.

            Dewasa ini hari-hari pahlawan diperingati secara simbolik saja Murid-murid hanya hafal nama, tempat tanggal lahir dan jejak perjuangannya. Sebagai calon pendidik kita harus mampu memberikan makna perjuangan para pahlawan dengan sudut pandang keteladanannya. Sehingga rasa cintanya terhadap Indonesia akan tumbuh dengan sepenuh hati. R.A Kartini memang merupakan pahlawan emansipasi wanita. Perjuangannya lekat dengan kaum perempuan, namun dengan memaknai perjuangannya dalam sudut pandang sifat dan pemikirannya, kaum laki-laki pun dapat merasakan betapa hebatnya seorang perempuan. Sehingga diharapkan sejak dini para siswa dapat menghargi hak-hak perempuan maupun laki-laki. Paham tentang adil gender tentu harus ditumbuhkan sejak bangku dasar. Mahasiswa PGMI sebagai calon-calon pendidik harus mampu melahirkan pahlawan-pahlawan bagi tanah air Indonesia. Bukan dengan bersenjata api atau melempar bambu runcing, namun dengan menanamkan rasa cinta terhadap bangsanya disertai mental seperti seorang pejuang.

 

Leave a Comment