Hubungan Antar Manusia Yang Saling Berkaitan

156 Pembaca

Manusia adalah makhluk sosial, kita mengetahui bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain dan manusia sangat membutuhkan bantuan orang lain serta perhatian orang-orang disekitar nya, seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhannya lahir dan batin tanpa bantuan orang lain. Dari sini  diperlukan kerja sama serta interaksi harmonis. Namun demikian, semakin dekat hubungan semakin banyak tuntutan dan semakin tidak mudah memeliharanya.termasuk dalam hal ini hubungan perkawinan. Ini tidak mudah apa yang diduga orang. Hubungan ini bukan angka-angka yang dapat dihitung dan diprediksi. Membangun rumah tangga tidak seperti membangun rumah, menyusun bata diatas bata.  Tidak juga seperti membuat taman,merangkai kembang disamping kembang disamping kembang, apalagi seperti menghimpun binatang di dalam kandang. Pengalaman hidup kita dalam berinteraksi membuktikan betapa sulitnya hubungan antar manusia. Tidak jarang kita mengerahkan banyak tenaga hanya untuk menguraikan persoalan sepele, menyisihkan sekian banyak waktu untuk menjelaskan maksud baik yang di salah paahami. Demikian itulah hubungan antar manusia. Tidak menyapa pada saat teman berpakaian baru, dan sebagainya, tidak berkomentar saat teman berpakaian baru, dan sebagainya, yang boleh jadi di nilai sepele oleh satu pihak, tetapi dapat mengakibatkan keruhnya hubungan.Memang, hubungan antar manusia sering dilihat oleh kabut. Kabut inilah yang memicu lahirnya perselisihan dan aneka problem yang terjadi pada hubungan yang saling berkaitan dengan masalah tersebut. Walaupun manusia telah mengalami kemajuan dalam berbagai bidang, tetapi kemajuan itu bukan dalam menyelesaikan perselisihan atau memecahkan berbagai masalah ataupun problem yang terjadi .Manusia dan interaksi antar mereka sejak dahulu hingga kini tidak berubah, yang berubah adalah sarana dan prasarana nya. Kesalahpahaman, perang, cinta, perkawinan, dan sebagainya sejak dahulu ada, dan kini pun masih berlanjut, walaupun sarana dan sarana nya berbeda. Dahulu alat transportasi adalah binatang, kini kita mengendarai pesawat, tetapi banyak manusia tidak mengetahui apa itu pesawat, bagaimana cara kerjanya walaupun mereka menggunakannya. Kita semua senang memiliki orang-orang di sekitar kita yang sayang kepada kita dan memberikan perhatian penuh kepada kita serta perduli terhadap apapun yang terjadi kepada kita, mereka adalah keluarga dekat kita terutama kedua orang tua kita yang sangat menyayangi kita. Dan tentu juga kita semua senang memiliki pasangan yang akan mendampingi kita nanti, senang bercinta, tetapi pernahkah kita bertannya mengapa demikian dan untuk apa itu? Boleh jadi kia pernah bertanya, tetapi mengetahui jawaban nya yang pasti tidaklah mudah, kecuali yang mendapat petunjuk dari tuhan.

       Salah seorang teman pernah memberi nasihat, “jangan tanya akal anda tentang wanita yang hendak anda jadikan pendamping. Pastilah akal akan menunjukkan kekurangan nya, dan ketika itu anda dapat mengurungkan rencana. Tapi tanyailah hati. Jika ia menjawab positif, walau tak bulat, maka tugaskan akal mencari pembenaran nya.” Sekalai lagi, hubungan antar manusia sering kali rumit,  tidak jelas, dan penuh problem. Problem akan bertambah banyak jika kita tidak berusaha mengetahui persoalan nya, karena itu ia harus kita hadapi bukan dengan menutup mata dan membiarkan nya, tetapi dengan menyelesaikan nya, dan penyelesaian itu tidak mungkin tanpa mengetahui apa dan siapa yang di hadapi. Kita tidak ingin hanya menikmati komputer, televisi, dan semacamnya, kemudian saat ada gangguan kita biarkan tanpa ada perbaikan, atau membeli uang yang baru. Itu memang cara termudah, tetapi mahal. Bukankah kita baik mempelajari cara perbaikan nya dan kalau gagal kita merujuk kepada yang mengerti untuk membantu.Amat mudah membeli komputer, tetapi bagaimana merawatnya? Tidak sulit menjalin hubungan, tetapi bagaimana melanggengkan nya? Nah, dari sinilah petunjuk dan pengarahan diperlukan, dan yang paling tahu tentang itu adalan pencipta manusia, Allah swt. Akhir-akhir ini sering terdengar keberpasangan atau perkawinan telah dikenal manusia sejak awal sejarah kehadirannya di pentas bumi ini dan hingga kini tersebar dikalangan manusia,memang pahit dan manis, susah dan senang mudah dan sulit, adalah ciri kehidupan di pentas bumi ini. Manusia tidak dapat menghadapi hidup ini sendirian.  Jangankan untuk menghadapi problema hidup, di mana sangat jelas kebutuhan kita kepada teman, paling tidak untuk menampung curahan keluhan kita, untuk merasakan kebutuhan kita pun membutuhkan teman atau pasangan, karena tiada artinya kebahagiaan jika hanya di rasakan sorang diri. Kenyataan juga menunjukkan bahwa semakin banyak yang terlibat dalam kegembiraan semakin meriah kegembiraan itu, sebaliknya semakin banyak yang ikut serta dalam kesedihan semakin  ringan kepedihannya dipikul. Pasangan seseorang adalah benteng sekaligus pendukung nya, bahkan ia menjadi representasi dirinya yang berada di luar dalam menghadapi berbagai situasi. Karena itu dalam kehidupan di dalam hubungan yang berkaitan tidak ada istilah problema atau masalah sendiri. Dengan demikian, kebersamaan dalam ikatan hubungan merupakan puncak penyatuan jiwa, akal, harapan, dan cita-cita.

       Memang sewaktu-waktu manusia bisa merasa senang dalam kesendiriannya, tetapi tidak untuk selamanya. Manusia telah menyadari bahwa hubungan yang dalam dan dekat dengan pihak lain akan membantu nya mendapatkan kekuatan dan membuat lebih mampu menghadapi tantangan. Karena alasan-alasan inilah, maka manusia melakukan hubungan berupa interaksi sesama manusia pada keluarga bermasyarakat dan berbangsa. Allah maha mengetahui bahwa ini di alami manusia. Karena Allah menjadi pemisah antara hati manusia dan diri manusia sendiri, maka peranan Allah menyangkut hati manusia sangat besar. “Hati manusia berada di antara dua jari dari  jari-jari Tuhan,” Dia yang membolak-balikannya ke kiri dan ke kanan. Hati adalah wadah perasaan, seperti cinta, kasih, senang, benci, iman, ragu, dan sebagainya. Semuanya tertampung di dalam hati. Kita tentu bisa mengalami perbedaan gejolak hati dan perpindahan yang begitu cepat antara senang dan susah, kegelisahan dan ketentraman, bahkan cinta dan benci. Kita juga pernah mengalami bahwa hati kita menginginkan sesuatu, tetapi akal kita menolaknya. Ini bukti bahwa kita tidak mnguasai sepenuh nya hati kita. Allah yang menguasai nya. Itulah bukti adanya peranan Tuhan dan kedekatan nya ke hati kita semua. Kedewasaan adalah kematangan pikiran dan emosi manusia terkait tentang pikiran dan emosi manusia tersebut, karena itu kedewasaan melahirkan tanggung jawab. Tanggung jawab yang ditekankan di sini adalah tanggung jawab menyangkut hubungan antar manusia tersebut. Seseorang bisa saja bertemu dan mengenal ratusan orang, tetapi dia tidak bertanggung jawab terhadap orang itu. Kedewasaan itu juga menjadikan seseorang menyadari kelemahan nya sehingga ia harus berhenti pada batas nya. Kedewasaan menjadikan seseorang mengetahui hakikat yang sebenarnya. Dalam konteks perbedaan dalam menghadapi kesulitan, perlu diketahui bahwa manusia adalah makhluk yang sangat peka terhadap lingkungan di sekitarnya tetapi perlu konsentrasi sepenuh nya untuk menyelesaikan persoalan yang di hadapi nya, kalau pun belum terselesaikan ma boleh jadi ia mengalihkan pikiran sejenak kepada hal yang lain, seperti membaca dan lain-lain yang tidak terlalu membutuhkan konsentrasi penuh.

Rahayu Zuliawati (PGMI Semester 1 IAIN Pontianak)

 

 

Leave a Comment