Dunia Pendidikan Di Indonesia Tahun 2019

167 Pembaca

Pendidikan, kalau kita mengarah pada kata tersebut pasti isi pikiran kita akan mengarah pada proses di mana seorang guru mengajarkan sesuatu materi kepada para murid. Mengajarkan berarti memberi sesuatu ilmu atau menambah wawasan seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu.

Pendidikan diartikan sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh pendidik melalui bimbingan, pengajaran dan latihan untuk membantu peserta didik mengalami proses diri ke arah tercapai Dengan demikian, diharapkan pendidik dapat melakukan bimbingan serta pengajaran pada peserta didik hingga pada akhirnya peserta didik menjadi pribadi yang dewasa. Guru selain bertugas untuk mengajar yang secara umum didefinisikan menyampaikan materi pelajaran kepada siswa, guru juga dituntut untuk mampu mendidik siswa menjadi pribadi yang memiliki akhlak mulia. Berbakti kepada orang tua, guru, maupun mengabdikan diri untuk masyarakat. Pendidikan berasal dari kata dasar didik yang artinya memelihara dan member latihan, ajaran, bimbingan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. (KBBI:2009)

Proses mengajarkannya ini pada suatu tempat, yang kita beri nama sekolah (sekolahan). Kesimpulannya, pendidikan adalah di mana seseorang datang ke sekolah untuk menambah ilmu atau wawasan mereka ke suatu tempat yang namanya sekolahan.

Jangan sampai baik buruknya prestasi siswa hanya dibebankan kepada guru. Semua elemen harus mendukung dalam tercapainya prestasi belajar siswa. Terutama peran orang tua sangat vital dalam berhasil tidaknya siswa sekolah. Anak usia SD, SMP, maupun SMA harus dipantau dan diawasi oleh orang tua masing-masing ketika berada di rumah. Baik itu porsi belajar serta teman bermain. Hal ini untuk mengantisipasi bebasnya anak bergaul ataupun berteman dengan siapa pun. Karena lingkungan tempat tinggal merupakan salah satu faktor yang menunjang terbentuknya pribadi pelajar tersebut. 

Dari tahun ke tahun, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang dan maju. Negara Indonesia harus mampu bersaing dengan negara-negara yang lain. Perlu kita ketahui sebuah negara dikatakan maju bila pendidikan di negara tersebut juga maju. Nah saat ini, kesadaran siswa akan kewajibannya untuk belajar semakin hilang. Mereka hanya ingin sesuatu yang instan tanpa berusaha dengan gigih. Alhasil ketika menilik nilai semesteran yang baru selesai dilaksanakan. Sebagian besar dari mereka harus melakukan remidi untuk memperbaiki nilainya. Sungguh PR besar yang harus dilakukan baik oleh orang tua maupun guru di sekolah tersebut jika ingin negara Indonesia tidak tertinggal dengan negara lainnya.

Secara perlahan definisi pendidikan di atas diarahkan pada pola pendidikan yang lebih modern, di mana si Anak (siswa/i) tidak perlu lagi belajar di ruangan (mereka bisa belajar di mana saja mereka mau), si Anak (siswa/i) tidak perlu lagi membawa buku-buku yang memberatkan mereka (mereka cukup membawa smartphone mereka karna buku sudah dalam bentuk e-book) dan yang lebih menarik lagi si Anak (siswa/i) tidak perlu lagi membayar sekolah yang sangat mahal (otomatis uang pendidikan mereka bisa dialihkan pada pengeluaran lain yang lebih bermanfaat) Faktanya, setiap kita jalan (entah di trotoar, di manapun itu) pasti kita tidak pernah melihat orang yang tidak memegang smartphone. Kalau para pengajar masih tidak mau mengubah pemikiran mereka, maka yang terjadi adalah benturan. Kalau terjadi benturan, otomatis proses pembelajaran tidak dapat berjalan dengan baik. Kalau kita bikin smartphone menjadi sahabat para siswa/i, hasil akan menjadi maksimal.

Hal tersebut akan merambah di tahun 2019 dan tahun-tahun ke depannya. Anak-anak pelajar ini akan sangat dimanjakan oleh teknologi. Dan suka atau tidak suka, pemerintah dan aparaturnya harus mendukung hal tersebut. Selain pemerintahan, sekolah-sekolah yang masih bertahan juga harus mendukung hal tersebut.

Memang tidak mudah untuk mengubah pemikiran tersebut dan butuh keterbukaan hati untuk kita belajar lagi mengenai perkembangan teknologi yang ada saat ini. Kenapa guru-guru ini harus mengubah mindset mereka?

Siswa/i akan sangat dimanjakan dengan perkembangan teknologi yang ada pada saat ini. Banyak penyedia jasa pendidikan yang tentunya akan memanjakan para siswa/i tersebut.

Penyebab rendahnya mutu pendidikan diindonesia antara lain adalah masalah efektifitas, efensiensi dan standardisasi pengajaran. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan diindonesia pada umumnya. Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu:
1. Rendahnya sarana fisik
2. Rendahnya kualitas guru
3. Rendahnya kesejahteraan guru
4. Rendahnya prestasi siswa
5. Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan
6. Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan
7. Mahalnya biaya pendidikan

Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, disamping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pembelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.

Beberapa faktor yang mengakibatkan mutu pendidikan sulit untuk ditingkatkan antara lain:

1. Kebijakan dalam penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan educational production function yang tidak konsekuen.

2. Penyelenggaraan pendidikan secara sentralistik dan Jawa sentris. Keputusan birokrasi dalam hal ini hampir menyentuh semua aspek sekolah, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan kondisi sekolah tersebut. Akibatnya, sekolah kehilangan kemandirian, motivasi, dan inisiatif untuk mengembangkan lembaganya.

3. Peran serta masyarakat dalam pengelolaan pendidikan masih kurang. Partisipasi masyarakat dalam pendidikan hanya bersifat dukungan dana. Padahal yang lebih penting adalah partisipasi dalam hal proses pendidikan yang meliputi;
(1) pengambil keputusan
(2) monitoring
(3) evaluasi
(4) akuntabilitas. Usaha yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan yaitu:

1. Meningkatkan Anggaran Pendidikan Pemerintah bertanggung jawab untuk menanggung biaya pendidikan bagi warganya, baik untuk sekolah negeri maupun sekolah swasta.

2. Manajemen pengelolaan pendidikanManajemen pendidikan yang baik harus memperhatikan profesionalisme dan kreativitas lembaga penyelenggara pendidikan

3. Bebaskan sekolah dari suasana bisnisSekolah bukan merupakan ladang bisnis bagi pejabat Dinas Pendidikan, kepala sekolah, guru maupun perusahaan swasta. Tetapi sekolah merupakan tempat untuk mencerdaskan bangsa.

4. Perbaikan kurikulum Penyusunan kurikulum hendaknya mempertimbangkan segala potensi alam, sumber daya manusia maupun sarana dan prasarana yang ada. Pendidikan demokratis harus membekali warga negara dengan dasar yang teguh dalam sosio-ekonomis, mendorong tanggung jawab dan tindakan yang berani di segala bidang, memerangi penyalahgunaan propaganda

5. Pendidikan Agama Pendidikan agama di sekolah bukan sebagai penyampaian dogma atau pengetahuan salah satu agama tertentu pada siswa tetapi sebagai penginternasionalisasian nilai-nilai kebaikan, kerendahan hati , cinta kasih dan sebagainya. 

(Rizka Supatri Kelas 1D: Dari IAIN Pontianak)

Leave a Comment