DARI WANITA UNTUK WANITA

58 Pembaca

“Dari Wanita untuk Wanita”

Nurul Hidayah 

Universitas Hasyim Asy’ary (UNHASY) Tebuireng Jombang

 

            Wanita merupakan suatu kaum yang diciptakan sebagai pendamping bagi kaum lelaki dan sebagai ibu dari seorang anak. Jika dilihat dari sudut pandang tersebut, bukankah wanita merupakan makhluk sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT? namun mengapa masih banyak padigma yang menggambarkan suatu keburukan dari wanita?

            Paradigma pertama: katanya… Wanita itu lemah. Lantas mengapa Allah SWT memilih kaum wanita untuk mengandung dan melahirkan? Bukankah selama ini kita tahu bahwa perjuangan seorang ibu untuk mengandung dan melahirkan adalah suatu perjuangan yang besar dan tidak mudah, jadi dimana letak kelemahan seorang wanita? Untuk para wanita jangan pernah berkecil hati meskipun kita telah diberi sebuah label bahwasanya wanita itu lemah, setidaknya kita adalah kaum yang dipilih oleh Allah SWT untuk mengandung dan melahirkan seorang calon manusia penerus kehidupan. Bahkan, Allah pun telah menjajikan surga bagi seorang wanita yang meninggal karena melahirkan.

            Paradigma kedua: katanya…Wanita itu racun dunia. Lantas mengapa ada kata ibu pertiwi? Bukankah kata bapak pertiwi lebih terdengar mengagungkan? Hal tersebut jelas bahwa mereka yang memiliki paradigma bahwa kaum wanita itu racun dunia adalah mereka yang tidak mengerti tentang definisi wanita yang sesungguhnya.

            Paradigma ketiga: katanya… Wanita itu kodratnya di dapur tidak perlu sekolah yang tinggi. Lantas bukankah ibu merupakan guru yang paling utama dari seorang anak? Tidakkah kita tahu bahwa anak yang cerdas itu terlahir dari ibu yang cerdas? dan jika nanti seorang anak terlahir menjadi anak yang tidak cerdas siapa yang akan disalahkan? Pasti, ibu dengan alasan seorang ibu yang berkewajiban mendidik anak dan seorang ayah berkewajiban untuk mencari nafkah. Sedangkan sudah jelas paradigma tersebut melarang wanita untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Kalau ibunya saja hanya berpendidikan rendah, terus apa yang akan diajarkan kepada anaknya kelak? Jadi meskipun wanita, kita berhak mendapat pendidikan yang tinggi. Meskipun suatu saat nanti kita hanya sebagai ibu rumah tangga setidaknya kita mempunyai bekal ilmu yang bisa kita ajarkan kepada anak kita kelak.

            Terlalu banyak paradigma buruk yang diberikan kepada kaum wanita. Lantas apakah kita sebagai kaum wanita hanya akan diam saja akan paradigma tersebut? Dahulu ketika penduduk negara kincir angin menghancurkan negara kita, para wanita hanya bisa menangis pasrah dan bersembunyi di dalam rumah. Mereka tidak bisa berbuat apapun karena mereka percaya pada semua paradigma yang sebenarnya tidak sesuai dengan kodrat wanita yang sesungguhnya. Hal tersebut menjadikan mereka hanya bisa bergantung kepada kaum lelaki. Namun perlahan paradigma tersebut mulai terkikis karena adanya seorang wanita yang berasal dari bumi Jepara menjadi pelopor terjadinya emansipasi bagi wanita. Dia berjuang antara hidup dan mati untuk mempertahankan hak-hak wanita, dia berjuang untuk menjunjung tinggi kehormatan wanita, dia berjuang untuk membangun persamaan derajat antara kaum lelaki dan kaum wanita, dia berjuang untuk mewujudkan cita-cita para wanita untuk menjadi kaum yang mandiri dan cerdas. dialah sang Raden Ajeng Kartini.

            Untuk para wanita… Pernahkah terbesit rasa ingin meneruskan semua perjuangan dari ibu Kartini? Jika ada maka LAKUKANLAH! Kita sebagai wanita jangan hanya berpasrah pada pada suatu keadaan. Jangan hanya bisa menangis ketika menghadapi suatu masalah. Memang ada yang mengatakan bahwa seorang wanita yang menangis itu bukan berarti lemah, hanya saja mereka terlalu banyak menggunakan perasaan dalam segala kehidupannya. Namun jika dipikirkan kembali, Apakah semua masalah akan selesai jika hanya menangis? Tentu saja tidak, semua masalah tidak akan selesai jika hanya menangis. Ingat bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk berdo’a dan berusaha bukan memerintahkan kita untuk berdo’a dan menangis. Maka bangkitlah kaum wanita, hadapi semua masalah yang ada. Jadikan semua masalah yang kita hadapi saat ini sebagai suatu pelajaran untuk menghadapi masalah yang lebih besar lagi.

            Untuk para wanita… Apa yang kau lakukan jika kehormatanmu direndahkan? Apakah hanya diam dan pasrah? Atau menyerah dan memilih meninggalkan dunia? Lantas untuk apa ibu Kartini memperjuangkan kehormatan wanita jika penerusnya saja enggan mempertahankan? Marilah kaum wanita kita bersama menjaga dan mempertahankan semua hak-hak yang berhubungan dengan kehormatan kita. Jangan biarkan semua kehormatan kita direndahkan oleh mereka yang tidak punya hati nurani. Jangan biarkan kehormatan yang kita miliki diinjak-injak oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Banyak sekali kasus yang terjadi disekitar kita yang selalu menjadikan wanita sebagai tokoh utama dari permasalahan tersebut.

Disaat kasus seorang wanita yang hamil diluar nikah, maka wanita tersebut yang akan dikucilkan oleh masyarakat disekitarnya, wanita tersebut akan dicaci maki dan dianggap sebagai wanita yang nakal, wanita yang tidak suci, bahkan dianggap sebagai wanita yang hina. Lantas bagaimana dengan laki-laki yang menghamilinya? Apakah dia terlalu bersih sehingga semua menyalahkan sang wanita? Apakah mereka tidak bersalah hingga sang wanita saja yang dikucilkan? Maka, marilah kita menjaga kehormatan yang kita miliki agar kita tidak lagi menjadi tokoh utama dari setiap permasalahan. Kita buktikan kepada mereka bahwa kita adalah wanita penerus dari ibu Kartini yang akan selalu menjaga dan memperjuangkan kehormatan yang kita miliki.

Untuk para wanita… Tuntutlah ilmu setinggi-tingginya. Jangan dengarkan mereka yang mengatakan bahwa wanita yang memiliki ilmu yang tinggi akan membuat lelaki enggan mendekat karena merasa minder atas ilmu yang wanita miliki. Lantas apakah jika kita para kaum wanita memiliki pendidikan yang rendah membuat para lelaki akan banyak yang datang kepada kita? Tentu tidak, para lelaki pun ingin mendapatkan pendamping yang cerdas dan berpendidikan agar dalam rumah tangganya kelak juga akan terlahir anak-anak yang cerdas dan bisa membanggakan orang tua. Tidakkah kita tahu bahwa Allah telah berfirman bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan berpasang-pasangan? Jadi para wanita jangan memikirkan semua perkataan yang sebenarnya diucapkan oleh mereka yang berpikiran kuno dan tidak mempunyai ambisi untuk memiliki pengetahuan yang tinggi. Mari bersama meraih semua cita-cita yang kita inginkan. Buatlah mereka yang ada disekitar kita bangga atas kemampuan yang kita miliki.

Untuk para wanita.. Mulai saat ini marilah kita merubah semua paradigma buruk yang diberikan kepada kaum wanita. Tunjukkan bahwa kita kaum wanita adalah kaum yang berani. Bukan berani untuk melawan kepada kaum lelaki yang menjadi suami kita, karena kita sebagai wanita diwajibkan untuk patuh kepada suami. Namun berani dalam membela kebenaran dan berani dalam menjunjung hak-hak yang dimiliki. Tunjukkan bahwa kita kaum wanita adalah kaum yang kuat. Kuat dalam mempertahankan kehormatan yang dimiliki. Tunjukkan bahwa kita kaum wanita adalah kaum yang berhak untuk memperoleh pendidikan yang tinggi sebagai bekal yang bisa diajarkan pada anak kita kelak. Tunjukkan bahwa kita kaum wanita adalah kaum yang berhak memperoleh semua hak sebagaimana kaum lelaki menerima hak yang menjadi kodratnya.

Dan yang terakhir, untuk para wanita… Mari bersama kita tanamkan di dalam hati bahwa kita BANGGA MENJADI KAUM WANITA. 

 

BIODATA

 

Inilah saya.. Salah satu dari sekian banyak kaum wanita yang diciptakan oleh Allah SWT. Tercatat dengan nama Nurul Hidayah di akte kelahiran yang dikeluarkan oleh kantor Catatan Sipil. Terlahir di kota yang memiliki julukan kota santri di Jawa Timur yang Inshaa Allah juga masuk dalam salah satu provinsi di Indonesia.

Untuk pendidikan, saya sudah menempuh selama 12 tahun dari SD-SMA. Dan untuk saat ini saya adalah seorang mahasiswi di Universitas Hasyim Asy’ary (UNHASY) Tebuireng Jombang, mengambil prodi yang jelas menjadi persyaratan lomba ini (dibaca PGMI). Jika ditanyakan tentang hobi atau kegemaran, disitu terkadang saya merasa sedih.. Jika saya menjawab gemar menulis, membaca, atau apapun, nyatanya saya lebih gemar makan, dan jika menjawab saya gemar makan, pasti ada yang membalas jika makan itu bukan kegemaran tapi kebutuhan. Lantas saya harus menjawab apa? Entahlah.. untuk masalah hobi saya berdo’a semoga segera dipertemukan dengan saya.. agar saya bisa menjawab jika ada pertanyaan yang berhubungan dengan hobi. Untuk yang mau berteman dengan saya bisa lewat via yang ada dibawah ini.. untuk yang tidak mau berteman ya sudah saya tidak memaksa.  Terimakasih..

            : nurulhiday97                                                 : 085730092398

            : Noeroel Hidayah                                           : nurulhiday97

 

Leave a Comment